Satgaswil Jabar Densus 88 AT Polri NGOPI “Ngobrol Bareng PWI” Kota Cirebon.

oleh -486 Dilihat

Cirebon Djalapaksinews – Satgaswil Jabar Densus 88 AT Polri Kompol H. Satori S.H., M.M. membahas Edukasi Pemahaman dan Pencegahan Penyebaran Faham IRET (Intoleransi, Radikalisme, Extremisme dan Terorisme) untuk Lapisan Masyarakat.

Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan edukasi terhadap lingkungan masyarakat mengenai pemahaman dan Pencegahan IRET melalui tayangan Podcast di kantor PWI kota Cirebon, pada Rabu ( 28/1/2026 ).

Dalam kegiatan ini Kompol H. Satori, S.H., M.M. menerangkan bahwa Terorisme di Indonesia mengalami perkembangan yang dinamis. Jika pada periode sebelumnya aksi teror lebih banyak dilakukan secara terorganisir dan terpusat, saat ini pola tersebut cenderung berubah. Ancaman teror berkembang ke arah yang lebih tersembunyi, terfragmentasi, dan memanfaatkan ruang digital.

‎Selain itu, terdapat kecenderungan pelaku bertindak secara mandiri atau dikenal sebagai lone actor, yang terpapar paham ekstrem melalui dunia maya tanpa keterlibatan langsung dalam struktur organisasi teror. Kondisi ini menuntut kewaspadaan lebih dari seluruh elemen masyarakat.”

‎Terorisme bukanlah fenomena yang muncul secara tiba-tiba. Secara umum, terorisme berawal dari berkembangnya paham ekstrem yang memandang kekerasan sebagai alat pembenaran untuk mencapai tujuan ideologis, politik, atau keyakinan tertentu.

‎> Pada tahap awal,proses ini sering dimulai dari penyebaran narasi yang bersifat intoleran dan eksklusif membagi dunia ke dalam kelompok ‘kami’ dan ‘mereka’. Narasi tersebut kemudian diperkuat dengan propaganda yang menanamkan kebencian, ketidakpercayaan terhadap negara, serta penolakan terhadap perbedaan.”

‎> Penting untuk dipahami bahwa terorisme bukanlah ajaran agama, budaya, ataupun nilai luhur bangsa. Terorisme adalah tindakan kejahatan yang merusak rasa aman, memecah persatuan, dan mengancam masa depan generasi.

‎> Seiring dengan pesatnya perkembangan teknologi informasi, media sosial telah menjadi ruang baru yang dimanfaatkan oleh kelompok teror untuk menyebarkan ideologi ekstrem. Platform digital digunakan untuk membangun narasi kebencian, intoleransi, serta penolakan terhadap nilai-nilai kebangsaan.

‎> Dalam perjalanannya, kelompok teror di Indonesia mengalami perubahan pola. Jika sebelumnya mereka beroperasi dalam struktur yang terorganisir dan terpusat, saat ini banyak yang bergerak dalam jaringan kecil, tertutup, bahkan bersifat individual. Perubahan ini dilakukan untuk menghindari deteksi dan memperluas jangkauan pengaruh.

Kami mengajak seluruh orang tua, guru, dan masyarakat luas untuk lebih peduli terhadap aktivitas digital anak dan keluarga. Perkuat komunikasi, tanyakan apa yang mereka baca, siapa yang mereka ikuti, dan konten apa yang mereka konsumsi. Ingat, pencegahan terbaik dimulai dari keluarga, pungkas Kompol H Satori SH MM.

Utoyo

No More Posts Available.

No more pages to load.