BAZNAS Sidoarjo Sesalkan Perlakuan Kurang Sopan Oleh Pihak Sekolah SMK PGRI 2, Saat Tebus Ijasah

oleh -3 Dilihat

Sidoarjo – //DJALAPAKSINEWS// – (17/04/2026), Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kabupaten Sidoarjo kembali menunjukkan komitmennya dalam penyaluran bantuan biaya tebus ijazah bagi pelajar dari kalangan keluarga tidak mampu. Kali ini bantuan tebus ijazah diberikan kepada Revalina Ayu Dwiyanti, siswi jurusan Akutansi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) PGRI 2 Sidoarjo.

“Baznas Sidoarjo mendapat informasi ada berita viral, seorang siswi anak penjual bakso keliling telah lulus tahun 2024. Namun ijazahnya tertahan selama 2 tahun oleh pihak sekolah. Mendapati wali murid yang tidak mampu mengambil ijazah karena adanya tunggakan biaya, Baznas Sidoarjo terpanggil untuk menyelesaikan hal itu,” terang Wakil Ketua IV Bidang SDM, Administrasi, dan Umum Baznas Sidoarjo, Drs. H. Ilhamuddin, pada Kamis pagi kemarin.

Setelah seluruh tunggakan sebesar Rp. 1.528.000 dibayar lunas oleh Baznas Sidoarjo, pihak sekolah yang diwakili Waka Kurikulum SMK PGRI 2, Kayatun menyerahkan ijazah kepada Mardjadi (59), ayah dari Revalina. Proses penyerahan ijazah dilakukan secara sederhana dan disaksikan Ilhamuddin.

“Saya ucapkan terimakasih banyak kepada Baznas Sidoarjo yang telah membantu menebus ijazah anak saya. Alhamdulillah, melalui bantuan ini, ijazah anak saya bisa keluar. Ke depan, Ijazah ini akan digunakan anak saya dalam mencari pekerjaan,” ucap Mardjadi dengan penuh rasa haru.

Sebelumnya, saat akan menebus ijazah, Baznas Sidoarjo sempat mendapatkan perlakuan kurang sopan dari petugas keamanan maupun guru SMK PGRI 2 Sidoarjo. Kedatangan Ilhamuddin di awal, tidak disambut dengan ramah, namun justru dibiarkan berdiri sendiri dan diacuhkan.

“Kami sangat menyayangkan kejadian ini. Saat datang, saya tidak dipersilahkan untuk duduk dan sebagainya. Namun hanya dibiarkan berdiri,” ungkapnya penuh keprihatinan.

Menurut Ilhamuddin, Sekolah seharusnya menyambut baik kedatangan Baznas dengan penuh gembira. Karena Baznas hadir memberikan solusi terhadap persoalan tunggakan wali murid yang umum terjadi di sekolah swasta.

“Kami datang baik dengan tujuan membantu melunasi tunggakan wali murid yang benar-benar tidak mampu secara finansial. Namun pada kenyataannya sambutan yang diberikan sekolah kurang baik,” sesalnya.

Ilhamuddin juga sempat terkejut dan mengaku kecewa, ketika mengutarakan niatnya melunasi tunggakan wali murid. Ia justru diarahkan berdiri di loket pembayaran SPP seperti mengantri karcis.

“Mohon maaf, Lembaga Baznas dibentuk secara resmi oleh pemerintah. Tujuan kedatangan kami ke sekolah untuk melunasi tunggakan wali murid. Setiba di depan, saya tidak dipersilahkan duduk atau masuk ruangan. Namun oleh petugas keamanan dan seorang guru, malah (saya) disuruh ke loket berdiri di antrian bayar SPP,” tutur Ilhamuddin mempertanyakan prosedur pelayanan.

Sambutan SMK PGRI 2 Sidoarjo kepada tamu yang dinilai jauh dari tatakrama kesopanan juga dialami wakil rakyat. Sebelumnya H, Tarkit Erdianto, SH, MH anggota komisi D DPRD Sidoarjo saat hendak melakukan validasi ijazah lulusan yang tertahan di sekolah mendapat sambutan kurang baik dari petugas keamanan SMK PGRI 2 Sidoarjo, Rabu lalu.

“Saya datang, bermaksud cek validasi ijazah yang masih tertahan. Namun tidak dibukakan pintu gerbang. Malah ditutup rapat. Security bilang Kasek dan keempat Wakasek waktu itu tidak ada di sekolah,” aku Tarkit saat dikonfirmasi di lokasi terpisah.

BAZNAS Sidoarjo berharap kejadian ini, bisa menjadi evaluasi sekaligus pelajaran bagi seluruh pengelola lembaga sekolah agar menerapkan standar pelayanan yang baik kepada tamu. Harapannya melalui layanan ramah, seluruh tamu baik pejabat maupun wali murid memberikan rasa hormat setinggi-tingginya bagi sekolah.

“Semoga ini menjadi pembelajaran buat kita bersama, dalam menciptakan sekolah ramah bagi para tamu,” pungkas Ilhamuddin. //Aryo/Jw//

No More Posts Available.

No more pages to load.