Tempuh Jalur Hukum, Pemain Aroempo Futsal Jadi Korban Kekerasan

oleh -460 Dilihat

Tangerang-//DJALAPAKSINEWS// –  (15/05/2026), Insiden kekerasan terjadi usai pertandingan Liga Futsal AAFI Tangerang 2 yang berlangsung di area parkiran GOR Raihan Islamic Village, Jalan Kelapa Dua Raya, Kabupaten Tangerang, Banten, pada Minggu kemarin sekitar pukul 16.30 WIB.

Dua pemain muda dari Aroempo Futsal berinisial SRZP (14) dan ST (15) diduga menjadi korban pemukulan yang dilakukan oleh pemain dari Banteng Hitam Futsal Academy. Akibat kejadian tersebut, kedua korban mengalami luka memar dan luka serius di bagian wajah serta tangan.

Berdasarkan informasi yang dihimpun serta hasil laporan kepolisian, peristiwa bermula usai pertandingan selesai. Saat itu SRZP yang hendak pulang berjalan menuju area parkiran. Namun secara tiba-tiba, korban didatangi dan diduga langsung dipukul pada bagian kepala serta ditendang oleh pemain Banteng Hitam FA.

Melihat rekannya menjadi korban pemukulan, ST yang merupakan rekan satu tim SRZP mencoba melerai. Namun nahas, ST justru ikut menjadi sasaran pemukulan hingga terjatuh ke aspal parkiran.

Akibat kejadian tersebut, SRZP mengalami luka pada bagian pelipis mata sebelah kanan. Sementara ST mengalami luka memar pada bagian mata serta luka lecet dan memar di siku sebelah kiri.

Pelatih sekaligus manajemen Aroempo Futsal, Bram Adimas Prakoso, mengaku sangat menyayangkan terjadinya insiden kekerasan terhadap anak didiknya. Menurutnya, dunia olahraga seharusnya menjadi tempat membangun sportivitas dan karakter positif bagi para pemain muda.

“Kami sangat prihatin dan menyayangkan kejadian ini. Anak-anak datang untuk bertanding dan belajar sportivitas, bukan untuk menjadi korban kekerasan. Sebagai pelatih, saya bertanggung jawab penuh terhadap kondisi pemain dan setelah kejadian kami langsung menghubungi orang tua masing-masing korban agar penanganan bisa segera dilakukan,” ujar Bram didampingi Dedy Rahman selaku Pembina Areoempo Futsal.

Ia berharap kejadian serupa tidak kembali terulang di dunia futsal usia muda karena dapat berdampak pada mental dan perkembangan anak.

“Kami berupaya menjaga situasi tetap kondusif karena yang terlibat adalah anak-anak. Fokus kami saat itu adalah mengamankan para pemain dan memastikan korban mendapatkan pertolongan,” jelasnya.

Di sisi lain, para orang tua korban mengaku sedih dan syok mengetahui anak mereka menjadi korban pemukulan usai pertandingan futsal. Mereka menyebut kekerasan dalam bentuk apa pun tidak dapat dibenarkan, terlebih dalam ajang olahraga.

“Kami sebagai orang tua sebenarnya sangat menyayangkan kenapa sampai terjadi pemukulan seperti ini. Awalnya kami masih mencoba menahan diri dan bahkan sudah memaafkan karena kami kasihan kepada mereka (terlapor),” ujar salah satu orang tua korban.

Namun situasi berubah setelah salah satu pihak yang mendampingi para terlapor, yang diketahui merupakan istri dari manajer Banteng Hitam, dinilai bersikap arogan dan menyepelekan persoalan tersebut.

“Kami kecewa karena saat ingin menyelesaikan secara baik-baik justru ada sikap yang terkesan sombong dan tidak menunjukkan empati kepada korban. Dari situ kami sebagai orang tua sepakat mengambil langkah tegas agar kasus ini diproses secara hukum,” lanjutnya.

Atas kejadian tersebut, pihak keluarga korban akhirnya melaporkan dugaan Tindak Pidana Kejahatan Perlindungan Anak ke Polres Tangerang Selatan dengan nomor laporan polisi: LP/B/1402/V/2026/SPKT/POLRES TANGERANG SELATAN/POLDA METRO JAYA, pada tanggal 11 Mei 2026, dengan terlapor JFW (17 Tahun) dan DP (15 Tahun).

Para orang tua korban berharap kasus tersebut dapat diproses secara adil agar menjadi pelajaran bersama dan tidak kembali terjadi tindakan kekerasan dalam dunia olahraga usia muda.//Hendro H/Jw//

No More Posts Available.

No more pages to load.