Tinjau Pembangunan Senderan Sungai Suba, Wali Kota Pastikan Upaya Pengendalian Banjir Terus Berjalan

oleh -17 Dilihat

Cirebon DjalapaksiNews — Pemerintah Kota Cirebon terus memperkuat langkah penanganan banjir melalui pembangunan infrastruktur pengendali genangan di sejumlah titik rawan. Salah satunya adalah pembangunan senderan Sungai Suba yang berada di RW 09 Kelurahan Drajat. Progres pekerjaan tersebut ditinjau langsung oleh Wali Kota Cirebon, Effendi Edo, pada Rabu (8/7/2026).

Peninjauan dilakukan untuk memastikan pembangunan berjalan sesuai rencana sekaligus melihat langsung kondisi lapangan. Keberadaan senderan sungai diharapkan mampu mengurangi potensi luapan air yang selama ini kerap menggenangi permukiman warga ketika curah hujan tinggi.

Wali Kota Cirebon, Effendi Edo, menjelaskan bahwa pembangunan senderan merupakan pekerjaan yang dilaksanakan oleh Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS). Infrastruktur tersebut dibangun dengan panjang sekitar 90 meter dan tinggi antara 1,8 hingga 2 meter sebagai bagian dari upaya memperkuat sistem pengendalian banjir di kawasan tersebut.

“Senderan yang dibangun BBWS ini memiliki panjang kurang lebih 90 meter dengan tinggi sekitar 1,8 hingga 2 meter. Kami berharap keberadaan infrastruktur ini dapat mengurangi risiko luapan sungai yang selama ini menjadi penyebab banjir di permukiman warga. Ini merupakan langkah nyata yang diharapkan memberi dampak positif bagi masyarakat,” ujar Wali Kota.

Ia menambahkan, upaya pengendalian banjir tidak hanya dilakukan di RW 09. Di RT 01 RW 01 Kelurahan Drajat, pembangunan senderan telah rampung disertai pembangunan pintu air serta perbaikan saluran drainase untuk meningkatkan kelancaran aliran air.

“Di wilayah RW 01, pembangunan senderan sudah selesai. Selain itu juga telah dilengkapi pintu air dan pembenahan saluran drainase. Dengan sistem yang semakin baik, kami berharap kemampuan kawasan ini dalam mengendalikan genangan juga semakin optimal,” tambahnya.

Wali Kota juga mengajak masyarakat untuk turut menjaga dan merawat infrastruktur yang telah dibangun. Menurutnya, keberhasilan pengendalian banjir tidak hanya ditentukan oleh pembangunan fisik, tetapi juga membutuhkan kepedulian bersama agar fasilitas tersebut dapat berfungsi dengan baik dalam jangka panjang.

“Kami mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama menjaga fasilitas ini. Jika dirawat dengan baik, manfaatnya akan dirasakan lebih lama dan upaya pengendalian banjir bisa berjalan lebih efektif,” tuturnya.

Sementara itu, Lurah Drajat, Daniar, menyampaikan bahwa wilayahnya menjadi salah satu kawasan yang cukup sering terdampak banjir sejak tahun 2024. Pada saat banjir besar, ketinggian air bahkan dapat mencapai sekitar dua meter hingga merendam permukiman warga.

Ia menuturkan, pada Februari 2026 wilayah tersebut kembali mengalami banjir sebanyak dua kali dengan ketinggian air mencapai dada orang dewasa. Kondisi tersebut mendorong warga untuk terus mengusulkan pembangunan senderan dan normalisasi sungai sebagai solusi penanganan yang lebih berkelanjutan.

“Harapan terbesar masyarakat memang pembangunan senderan dan normalisasi sungai. Selama ini banjir yang terjadi cukup besar sehingga kedua langkah tersebut dinilai menjadi kebutuhan mendesak untuk mengurangi dampak yang dirasakan warga,” ungkap Daniar.

Menurutnya, sedikitnya 160 kepala keluarga terdampak banjir di kawasan tersebut. Karena itu, pihak kelurahan akan kembali mengusulkan pembangunan senderan di RT 02 Kelurahan Drajat yang juga masih berpotensi terdampak luapan air, sehingga penanganan banjir dapat dilakukan secara bertahap dan menyeluruh.

“Kami akan terus mengusulkan pembangunan senderan di RT 02 karena kawasan itu juga masih rawan terdampak banjir. Apalagi luapan air yang terjadi tidak hanya berasal dari wilayah sekitar, tetapi juga merupakan kiriman dari daerah hulu. Oleh sebab itu, penanganannya perlu dilakukan secara bertahap dan berkesinambungan,” pungkasnya. (*/Utoyo)

No More Posts Available.

No more pages to load.