Paguyuban Blok Puhun Turun Tangan Bersihkan Jembatan Kalimanis yang Lama Luput dari Perhatian Pemerintah

oleh -36 Dilihat

CIREBON DjalapaksiNews – Semangat gotong royong kembali ditunjukkan warga Paguyuban Blok Puhun, Desa Karangsuwung, Kecamatan Karangsembung, Kabupaten Cirebon. Pada Minggu (12/7/2026), puluhan warga secara sukarela membersihkan rumput liar, semak belukar, trotoar pejalan kaki, serta saluran drainase di kawasan Jembatan Kalimanis, yang menghubungkan Desa Karangsuwung dengan Desa Karangsembung.

Aksi tersebut dilakukan sebagai bentuk kepedulian masyarakat terhadap kondisi jembatan yang dinilai sudah lama tidak mendapatkan pemeliharaan. Rumput liar yang tumbuh lebat di sepanjang trotoar membuat jalur pejalan kaki tidak dapat digunakan sebagaimana mestinya. Selain itu, saluran pembuangan air di sisi jembatan juga tertutup tanah, lumpur, dan sampah sehingga berpotensi menghambat aliran air.

Perwakilan Paguyuban Blok Puhun yang juga Ketua RT 01, Talkini, mengatakan bahwa kegiatan gotong royong ini lahir dari keprihatinan masyarakat terhadap kondisi Jembatan Kalimanis yang selama bertahun-tahun dinilai minim perhatian.

“Jembatan Kalimanis ini merupakan akses penting yang menghubungkan Desa Karangsuwung dengan Karangsembung. Namun selama puluhan tahun kami hampir tidak pernah melihat adanya pemeliharaan rutin dari pemerintah, baik tingkat kabupaten maupun kecamatan. Akhirnya masyarakat berinisiatif turun langsung membersihkannya demi kenyamanan dan keselamatan bersama,” ujarnya.

Menurut Talkini, trotoar yang dulunya menjadi jalur aman bagi pejalan kaki kini nyaris tidak bisa digunakan karena tertutup rumput liar, tanah, dan endapan lumpur. Kondisi tersebut memaksa warga berjalan di badan jalan yang dipadati kendaraan, sehingga meningkatkan risiko kecelakaan.

Selain trotoar, ia juga menyoroti kondisi drainase di sepanjang jembatan yang sudah tidak berfungsi optimal.

“Setiap beberapa meter terdapat lubang pembuangan air. Sekarang sebagian besar sudah tertutup tanah dan rumput sehingga air tidak mengalir dengan baik. Kalau dibiarkan terus, tentu bisa mempercepat kerusakan konstruksi jembatan dan mengganggu lingkungan sekitar,” jelasnya.

Ia berharap pemerintah daerah lebih serius memperhatikan pemeliharaan infrastruktur yang sudah ada, bukan hanya fokus pada pembangunan proyek baru.

“Kami tidak meminta yang muluk-muluk. Kami hanya berharap ada pemeliharaan rutin. Infrastruktur yang sudah dibangun dengan uang rakyat harus dijaga agar manfaatnya bisa dirasakan dalam jangka panjang,” tegas Talkini.

Warga yang ikut bergotong royong tampak membawa alat seadanya, seperti cangkul, sabit, parang, dan alat pemotong rumput Manual. Meski dilakukan secara swadaya, semangat kebersamaan terlihat begitu kuat. Dalam waktu beberapa jam, rumput liar berhasil dibersihkan dan saluran air mulai kembali terbuka.

Sementara itu, Aktivis Cirebon Timur, Ade Falah, mengapresiasi kepedulian masyarakat yang tidak hanya menunggu tindakan pemerintah, tetapi memilih bergerak demi kepentingan bersama. Namun, ia menegaskan bahwa pemeliharaan infrastruktur merupakan tanggung jawab pemerintah.

“Gotong royong ini patut diapresiasi karena menunjukkan tingginya kepedulian masyarakat terhadap lingkungan. Tetapi jangan sampai semangat warga dijadikan alasan untuk mengabaikan kewajiban pemerintah. Infrastruktur publik dibangun menggunakan anggaran negara sehingga pemeliharaan rutin juga harus menjadi tanggung jawab pemerintah,” kata Ade Falah.

Ia menambahkan bahwa pemerintah daerah perlu memiliki program pemeliharaan berkala terhadap jembatan, trotoar, dan saluran drainase agar tidak menunggu kerusakan yang lebih parah.

“Jangan sampai pemerintah baru bergerak ketika infrastruktur sudah rusak berat atau memakan korban. Perawatan rutin jauh lebih murah daripada harus membangun ulang. Aspirasi masyarakat seperti ini harus segera ditindaklanjuti oleh dinas terkait,” pungkasnya.
(*/Utoyo)

No More Posts Available.

No more pages to load.