Festival Jalur Rempah Episode 3, Pemkot Cirebon Ajak Masyarakat Lestarikan Tradisi Jamu sebagai Warisan Budaya Bernilai Ekonomi

oleh -16 Dilihat

CIREBON DjalapaksiNews — Kekayaan rempah dan tradisi pengobatan herbal kembali menjadi perhatian dalam Festival Jalur Rempah Episode 3 Tahun 2026 bertajuk Cirebon Cultural Wellness Workshop Jamu Tradisional dan Jamu Perawatan Pengantin yang digelar di Keraton Kacirebonan, Selasa (28/7/2026).

Kegiatan ini menjadi ruang kolaborasi antara Pemerintah Kota Cirebon, Himpunan Ahli Rias Pengantin Indonesia (HARPI) Melati Kota Cirebon, Keraton Kacirebonan, serta berbagai mitra untuk mengangkat kembali nilai budaya lokal yang selama ini diwariskan turun-temurun.

Wakil Wali Kota Cirebon, Siti Farida Rosmawati, mengatakan bahwa penyelenggaraan Festival Jalur Rempah yang telah memasuki episode ketiga menjadi bukti adanya komitmen bersama dalam menjaga dan melestarikan warisan budaya.

“Saya sangat bangga dan bahagia karena kegiatan hari ini merupakan bagian dari Festival Jalur Rempah yang sudah memasuki Episode 3. Fakta bahwa kegiatan ini dapat terselenggara hingga tiga kali menunjukkan keseriusan dan komitmen kita bersama dalam melestarikan kebudayaan serta berbagai keterampilan yang diwariskan oleh para leluhur,” ujarnya.

Menurutnya, pembahasan mengenai jamu tradisional dan jamu perawatan pengantin bukan sekadar mengenalkan produk herbal, tetapi juga mengingatkan kembali pada kecerdasan leluhur dalam memanfaatkan bahan-bahan alami untuk menjaga kesehatan dan kebugaran.

Di tengah tren back to nature yang kini berkembang di berbagai negara, tradisi tersebut justru membuka peluang baru bagi pelaku usaha, khususnya di bidang jasa pernikahan dan ekonomi kreatif.

Wakil Wali Kota menilai para perias pengantin memiliki peran strategis dalam mengembangkan potensi tersebut. Dengan menguasai keterampilan merias sekaligus pengetahuan mengenai jamu tradisional, layanan yang diberikan akan memiliki nilai tambah sekaligus ikut menjaga identitas budaya bangsa.

“Kerja sama antara HARPI Melati, Keraton Kacirebonan, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, serta dukungan dari sektor industri merupakan contoh kolaborasi yang sangat tepat. Melalui sinergi seperti inilah budaya lokal dapat memiliki nilai ekonomi yang tinggi dan pada akhirnya meningkatkan kesejahteraan para pelaku usaha jasa pernikahan di Kota Cirebon,” tuturnya.

Melalui Festival Jalur Rempah Episode 3, Pemerintah Kota Cirebon berharap tradisi jamu tidak hanya tetap lestari sebagai bagian dari identitas budaya, tetapi juga mampu berkembang menjadi potensi ekonomi kreatif yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Ketua HARPI Melati Kota Cirebon, Wiwit Widyawati mengatakan ada 75 peserta yang berasal dari Ciayumajakuning mengikuti workshop ini. Ia menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan tersebut.

“Festival Jalur Rempah bukan hanya menjadi ajang untuk mengenang kejayaan jalur rempah Nusantara, tetapi juga menjadi momentum untuk melestarikan tradisi meracik jamu sebagai bagian dari warisan budaya Indonesia,” ujarnya.

Sebagai organisasi yang bergerak di bidang tata rias dan kecantikan pengantin, HARPI Melati Kota Cirebon, lanjut Wiwit, berkomitmen mendukung pelestarian budaya melalui pemanfaatan bahan-bahan alami untuk perawatan kecantikan, baik dari luar maupun dari dalam tubuh.

Ia berharap para peserta memperoleh pengetahuan dan keterampilan baru sekaligus semakin bangga terhadap kekayaan budaya bangsa.

“Semoga kolaborasi antara HARPI Melati, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Mustika Ratu, serta Keraton Cirebon dapat terus berlanjut pada berbagai kegiatan pelestarian budaya di masa mendatang,” harapnya.

Sementara itu, Sultan Keraton Kacirebonan ke-X, Pangeran Sultan Abdul Gani Natadiningrat, menegaskan bahwa Cirebon sejak dahulu memiliki posisi penting sebagai jalur perdagangan rempah karena letaknya yang berada di kawasan pesisir dan memiliki kerajaan. Menurutnya, sejarah tersebut menjadi alasan kuat untuk terus menghidupkan kembali nilai-nilai budaya yang lahir dari tradisi rempah.

“Sejak dahulu Cirebon merupakan jalur rempah. Karena itu kami mendukung penuh kegiatan ini. Mudah-mudahan menjadi momentum yang produktif, tidak hanya menjaga nilai-nilai kebudayaan, tetapi juga menghadirkan nilai ekonomi bagi masyarakat. Semoga workshop ini membawa manfaat sekaligus mengangkat kearifan lokal yang kita miliki,” ucapnya. (*/Utoyo)

No More Posts Available.

No more pages to load.