Wali Kota Ajak TP PKK dan Bunda PAUD Perkuat Kolaborasi Membangun Generasi Berkualitas

oleh -35 Dilihat

Cirebon DjalapaksiNews — Pengukuhan Tim Penggerak PKK, Tim Pembina Posyandu, Bunda PAUD, dan Bunda Literasi Kota Cirebon berlangsung di Balai Kota Cirebon, Jumat (31/7/2026). Acara yang dipimpin langsung Wali Kota Cirebon, Effendi Edo, itu menjadi awal penguatan sinergi berbagai elemen masyarakat dalam mendukung pembangunan generasi yang sehat, cerdas, dan berkarakter.

Dalam arahannya, Wali Kota menegaskan bahwa keempat amanah yang diemban para pengurus bukanlah tugas yang berdiri sendiri, melainkan satu kesatuan yang saling melengkapi dalam membangun kualitas generasi penerus Kota Cirebon.

“Menjadi Ketua Tim Penggerak PKK, Ketua Tim Pembina Posyandu, Bunda PAUD, sekaligus Bunda Literasi bukanlah empat pekerjaan yang terpisah. Semua memiliki tujuan yang sama, yaitu membangun kualitas sumber daya manusia sejak tahap paling awal kehidupan hingga mereka tumbuh menjadi pribadi yang siap berkontribusi bagi masyarakat,” ujarnya.

Ia menjelaskan, pembangunan manusia harus dimulai dari terpenuhinya kesehatan balita. Karena itu, peran Posyandu dinilai sangat strategis dalam memastikan tumbuh kembang anak berjalan optimal.

Menurutnya, upaya penanganan stunting maupun gizi buruk tidak cukup hanya mengandalkan intervensi sektor kesehatan. Berdasarkan berbagai kajian, intervensi medis dan pemenuhan gizi hanya berkontribusi sekitar 30 persen terhadap keberhasilan penanganan, sementara 70 persen lainnya ditentukan oleh pola pengasuhan, sanitasi lingkungan, akses terhadap air bersih, serta ketahanan pangan keluarga.

“Karena itu saya meminta pendataan balita dilakukan secara langsung hingga tingkat RT. Kita harus memiliki data yang akurat, lengkap dengan alamat dan kondisi setiap anak. Dengan data yang valid, program pemerintah akan lebih tepat sasaran dan manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat,” tegasnya.

Setelah kesehatan anak terjaga, lanjut Wali Kota, perhatian harus diarahkan pada pendidikan usia dini. Ia mengingatkan bahwa masa emas anak merupakan fase yang sangat menentukan perkembangan kecerdasan dan karakter di masa depan.

“Banyak penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar kapasitas kecerdasan manusia terbentuk pada usia nol sampai enam tahun. Karena itu, pendidikan anak usia dini tidak boleh hanya berorientasi pada kemampuan membaca atau berhitung, tetapi juga harus membangun karakter, kematangan emosi, serta kemampuan sosial anak,” katanya.

Tidak berhenti di sana, Wali Kota juga menekankan pentingnya membangun budaya literasi sebagai bekal menghadapi tantangan kehidupan yang semakin kompleks.

Menurutnya, literasi bukan sekadar kemampuan membaca, tetapi juga kemampuan berpikir kritis, memahami informasi secara utuh, membedakan fakta dan hoaks, serta menemukan solusi atas berbagai persoalan.

“Kesehatan balita, pendidikan usia dini, dan literasi merupakan mata rantai yang tidak dapat dipisahkan dalam pembangunan sumber daya manusia. Saya berharap seluruh pengurus mampu menyusun program yang berbasis data, berpikir analitis, dan benar-benar berorientasi pada penyelesaian persoalan masyarakat,” ungkapnya.

Sementara itu, Ketua TP PKK Kota Cirebon, Noviyanti Edo, mengajak seluruh jajaran TP PKK, Posyandu, Bunda PAUD, dan Bunda Literasi di setiap tingkatan untuk memperkuat kolaborasi hingga ke tingkat kelurahan, RW, dan RT.

Menurutnya, keberhasilan berbagai program pemberdayaan masyarakat tidak dapat dicapai tanpa komunikasi dan kerja sama yang baik dengan para kader yang berada di lapangan.

“Saya mengajak seluruh ibu-ibu untuk terus berkolaborasi, bersosialisasi, menjaga silaturahmi, dan tetap bersemangat menjalankan 10 Program Pokok PKK sebagai bentuk kerja nyata kepada masyarakat. Ke depan saya juga akan berkeliling ke setiap kelurahan untuk melihat secara langsung bagaimana pelaksanaan Posyandu, PAUD, literasi, maupun kegiatan PKK berjalan. Dari sana kita bisa mengetahui kebutuhan dan tantangan di masing-masing wilayah,” ujar Noviyanti.

Ia menambahkan, keterlibatan pengurus hingga tingkat RW dan RT menjadi kunci keberhasilan setiap program karena mereka merupakan pihak yang paling memahami kondisi masyarakat.

“Rangkul para kader di RW dan RT, ajak berdiskusi, dengarkan masukan mereka. Jangan bekerja sendiri, karena merekalah yang memiliki data dan mengetahui kondisi riil di lapangan. Tanpa dukungan mereka, kita tidak akan bisa menjalankan program secara maksimal,” tuturnya. (*/Utoyo)

No More Posts Available.

No more pages to load.