Pertemuan GOW Ciayumajakuning, Wawali Bahas Ekonomi Keluarga dan Stunting

oleh -8 Dilihat

CIREBON DjalapaksiNews – Wakil Wali Kota Cirebon, Siti Farida Rosmawati, menghadiri Pertemuan Gabungan Organisasi Wanita (GOW) Wilayah III Ciayumajakuning Provinsi Jawa Barat yang berlangsung di Aula GOW Kota Cirebon, Rabu (19/8/2026).

Kegiatan yang mempertemukan organisasi wanita dari wilayah Cirebon, Indramayu, Majalengka, dan Kuningan tersebut menjadi ruang untuk mempererat silaturahmi sekaligus membahas peran organisasi perempuan dalam menjawab berbagai persoalan yang berkaitan langsung dengan kehidupan keluarga dan masyarakat.

Wakil Wali Kota menyampaikan apresiasi atas kehadiran para pengurus dan anggota GOW dari berbagai daerah di wilayah Ciayumajakuning. Menurutnya, pertemuan tersebut bukan sekadar agenda silaturahmi, tetapi juga dapat menjadi ruang untuk menyatukan gagasan dan menyusun langkah nyata yang bisa diterapkan di masing-masing daerah.

“Kehadiran delegasi dari seluruh wilayah Ciayumajakuning di Kota Cirebon menunjukkan besarnya kekuatan sosial perempuan yang kita miliki di tingkat regional,” ujarnya.

Ia menjelaskan, keberadaan organisasi perempuan memiliki posisi penting karena mempunyai kedekatan dengan masyarakat, terutama pada tingkat keluarga. Kedekatan tersebut menjadi modal sosial yang dapat membantu pemerintah memastikan berbagai program pembangunan benar-benar sampai kepada masyarakat.

“Pemerintah menyadari bahwa sebaik apa pun kebijakan yang dibuat, pelaksanaannya tidak akan optimal tanpa dukungan sosial yang tumbuh dan berakar di masyarakat. GOW memiliki jaringan organisasi yang secara alamiah dekat dengan keluarga, sehingga memiliki posisi yang strategis sebagai mitra pemerintah,” lanjutnya.

Karena itu, Wakil Wali Kota berharap pertemuan GOW Wilayah III Ciayumajakuning dapat menghasilkan pembahasan yang lebih konkret, khususnya terkait dua persoalan yang saat ini membutuhkan perhatian bersama, yakni penguatan ekonomi keluarga melalui UMKM perempuan dan pencegahan stunting.

Dalam bidang ekonomi, ia menyebut perempuan memiliki kontribusi besar terhadap keberlangsungan UMKM. Data yang disampaikan dalam pertemuan menunjukkan sekitar 64 persen pelaku UMKM merupakan perempuan. Tingginya angka tersebut, kata Siti Farida, perlu diikuti dengan peningkatan kapasitas, terutama dalam hal legalitas usaha dan literasi keuangan.

Menurutnya, GOW dapat mengambil peran melalui edukasi dan pendampingan agar semakin banyak perempuan pelaku usaha mikro yang memahami pentingnya legalitas serta mampu mengakses layanan keuangan secara lebih luas.

“Pemerintah Kota Cirebon terus berupaya agar perempuan pelaku usaha mikro memiliki Nomor Induk Berusaha atau NIB dan dapat masuk dalam ekosistem inklusi keuangan perbankan. Saya berharap GOW ikut mengambil bagian dalam proses edukasi dan pendampingan tersebut, karena kedekatannya dengan masyarakat menjadi kekuatan tersendiri,” tuturnya.

Selain ekonomi keluarga, perhatian juga diarahkan pada persoalan stunting. Siti Farida menilai upaya menekan angka stunting tidak hanya menjadi tanggung jawab sektor kesehatan, tetapi membutuhkan keterlibatan keluarga dan lingkungan sekitar.

Terlebih, perhatian terhadap tumbuh kembang anak dimulai sejak 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Pemantauan terhadap ibu hamil, bayi, dan balita membutuhkan keterlibatan banyak pihak yang memiliki akses langsung ke keluarga.

“Di sinilah saya mengajak GOW mengambil peran melalui jejaring sosial yang sudah dimiliki. Kedekatan kader dengan lingkungan masing-masing merupakan modal penting untuk mendukung kerja institusi kesehatan formal,” ujarnya.

Ia berharap GOW dapat menjadi jembatan informasi antara masyarakat dengan Posyandu dan Puskesmas. Dengan demikian, kondisi ibu hamil dan balita di lingkungan masing-masing dapat lebih mudah dipantau, termasuk dari sisi status gizi dan kebutuhan pendampingannya.

“GOW bisa menjadi penghubung informasi yang aktif bagi Posyandu dan Puskesmas terdekat, sehingga ibu hamil dan balita di sekitar kita dapat terpantau secara konsisten. Ini adalah pekerjaan bersama yang membutuhkan kepedulian dari lingkungan terdekat,” terangnya.

Sementara itu, Ketua TP PKK Kota Cirebon sekaligus Penasehat GOW Kota Cirebon, Noviyanti Edo, menilai pertemuan tersebut harus memberikan manfaat yang bisa dirasakan setelah kegiatan selesai. Menurutnya, forum organisasi perempuan tidak cukup hanya menjadi tempat berkumpul dan bertukar cerita, tetapi perlu menghasilkan gagasan yang dapat diterjemahkan menjadi program dan aksi bersama.

“Tema kita adalah ‘Bersatu Berdaya, Kuatkan Ekonomi Keluarga’. Kita bersama-sama punya peran untuk saling menguatkan, saling mengenal, dan saling mendukung. Jadi jangan hanya datang, berkumpul, lalu setelah itu selesai. Harus ada sesuatu yang bisa kita bawa pulang dari pertemuan hari ini,” ujar Noviyanti.

Ia mengatakan, salah satu hal yang perlu dibahas lebih jauh adalah melihat kembali kondisi GOW di wilayah III Ciayumajakuning, mulai dari struktur kepengurusan, jumlah anggota, kegiatan yang telah berjalan, hingga langkah yang akan dilakukan ke depan.

“Kita perlu membedah lagi GOW yang ada di wilayah tiga ini. Pengurusnya ada berapa, sudah bergerak sejauh mana, apa yang sudah dilakukan, dan action plan ke depan seperti apa. Dari situ kita bisa melihat apa yang bisa dikerjakan bersama,” katanya.

Noviyanti berharap forum tersebut dapat menghasilkan pemetaan dan rencana kerja yang lebih jelas sehingga keberadaan GOW benar-benar memberikan dampak bagi masyarakat, terutama dalam membantu keluarga meningkatkan kemandirian ekonomi.

“Semoga GOW mampu menjadi bagian dari ekosistem pembangunan yang hadir bukan hanya ketika program dilaksanakan, tetapi juga dalam proses mengidentifikasi persoalan, memberikan pendampingan, dan memastikan manfaat program benar-benar dirasakan masyarakat,” harapnya. (*/Utoyo)

No More Posts Available.

No more pages to load.