Transformasi Digital, Saatnya Akademisi Menjadi Penggerak Perubahan

oleh -100 Dilihat

CIREBON DjalapaksiNews — Transformasi digital tidak lagi sekadar berbicara tentang perkembangan teknologi, melainkan tentang bagaimana inovasi tersebut mampu menghadirkan manfaat nyata bagi kehidupan masyarakat. Akademisi pun dituntut tidak hanya menjadi pengamat perubahan, tetapi tampil sebagai penggerak yang mampu menciptakan solusi sosial yang inklusif, berkeadilan, dan berkelanjutan.

Pesan tersebut mengemuka dalam Studium General Internasional Program Studi Magister Pengembangan Masyarakat Islam (PMI) Pascasarjana UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, Kamis (20/8/2026).

Mengusung tema “Digital Transformation and Sustainable Islamic Community Development: Strengthening Social Innovation, Inclusion, and Global Collaboration”, kegiatan tersebut menghadirkan dua narasumber, yakni Mr. Raison D. Arobinto dan Prof. Pajar Hatma Indra Jaya. Keduanya memberikan perspektif mengenai pentingnya menempatkan teknologi sebagai instrumen pemberdayaan masyarakat.

Dalam forum tersebut, pengalaman masyarakat Muslim di Bangsamoro, Filipina, menjadi salah satu pembahasan penting. Kawasan yang memiliki keragaman budaya serta sejarah panjang dalam pembangunan perdamaian itu masih menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari kemiskinan, kesenjangan pendidikan hingga keterbatasan infrastruktur digital.

Di tengah kondisi tersebut, teknologi dinilai dapat menjadi instrumen pemberdayaan apabila penggunaannya tetap berlandaskan nilai-nilai kemanusiaan dan keislaman. Nilai ilm (pengetahuan), maslahah (kemaslahatan), adl (keadilan), amanah, dan khilafah (tanggung jawab) menjadi fondasi agar kemajuan teknologi tidak justru melahirkan kesenjangan baru.

Inklusi Digital Harus Menjadi Prioritas

Transformasi digital juga tidak boleh meninggalkan kelompok masyarakat yang memiliki keterbatasan akses. Perempuan, masyarakat pedesaan, masyarakat adat, pelajar madrasah hingga pelaku UMKM perlu memperoleh kesempatan yang setara dalam memanfaatkan teknologi.

Peluang tersebut semakin terbuka melalui perkembangan Islamic fintech, mobile banking, perdagangan elektronik, kewirausahaan halal, zakat, wakaf, hingga industri kreatif. Indonesia dan Filipina pun dinilai memiliki ruang kolaborasi yang luas, khususnya dalam pendidikan, penelitian, teknologi, ekonomi Islam, pengembangan industri halal serta pemberdayaan pemuda dan perempuan.

Sementara itu, Prof. Pajar Hatma Indra Jaya mengingatkan bahwa derasnya arus digital juga membawa persoalan baru. Ledakan informasi dapat memunculkan information overload, hoaks, misinformasi, dan disinformasi.

Karena itu, akademisi bidang Pengembangan Masyarakat Islam tidak cukup hanya memahami dan menginterpretasikan fenomena sosial. Akademisi harus melangkah lebih jauh, yakni menghadirkan transformasi melalui intervensi dan solusi yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.

Dari Kampus, Melahirkan Perubahan

Menurut gagasan yang disampaikan dalam kegiatan tersebut, ilmu pengetahuan tidak seharusnya berhenti pada buku, artikel ilmiah, maupun hasil penelitian. Pengetahuan harus menemukan jalan menuju masyarakat dan menjawab persoalan nyata seperti kemiskinan, ketimpangan, pendidikan, serta pemberdayaan.

Salah satu strategi yang ditawarkan adalah melalui demonstration plot atau proyek percontohan. Perubahan tidak harus selalu diawali dengan program berskala besar. Inovasi sederhana yang berhasil dapat menjadi model yang kemudian direplikasi oleh komunitas lain.

Gerakan bank sampah, inovasi berbasis masjid, koperasi digital hingga pengembangan wisata berbasis masyarakat merupakan contoh bahwa perubahan dapat dimulai dari lingkungan yang kecil. Teknologi selanjutnya berperan dalam mendokumentasikan, menyebarluaskan, dan memperluas praktik baik tersebut.

Bagi mahasiswa PMI, semangat tersebut menjadi tantangan sekaligus peluang. Mereka tidak perlu menunggu menjadi pejabat atau pemimpin lembaga untuk mulai memberikan kontribusi.

Satu masalah, satu inovasi, satu perubahan.

Prinsip sederhana tersebut dapat menjadi pintu masuk bagi mahasiswa untuk menghadirkan dampak nyata dari lingkungan terdekat sebelum berkembang menjadi gerakan yang lebih luas.

Pada akhirnya, transformasi digital bukan semata-mata tentang menjadi lebih modern. Lebih dari itu, transformasi digital harus mampu menjadikan kehidupan masyarakat lebih adil, inklusif, berdaya, berkelanjutan, dan bermartabat.

Dari ruang akademik UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, gagasan dan praktik perubahan itu dapat dimulai. Dari Cirebon, inovasi dan pengetahuan dapat bergerak melampaui batas wilayah bahkan batas negara.

Sebab, ukuran keberhasilan ilmu pengetahuan bukan hanya seberapa banyak pengetahuan yang dihasilkan, tetapi seberapa besar manfaat yang mampu diberikan bagi kehidupan masyarakat.

(Utoyo)

No More Posts Available.

No more pages to load.