CIrebon DjalapaksiNews – Tradisi Muludan kembali menjadi magnet bagi masyarakat dan peziarah di Kabupaten Cirebon.
Rangkaian adat, budaya, keagamaan hingga kesenian digelar di Situs Balong Kramat Tuk Pangeran Mancur Jaya, Desa Kertawinangun, Kecamatan Kedawung, Kabupaten Cirebon.
Paguyuban dan Sanggar Pangmulueran Mancur Jaya menggelar rangkaian tradisi dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H selama dua hari, Selasa-Rabu, 1-2 September 2026.
Salah satu prosesi yang paling dinantikan masyarakat adalah pengangkatan Buyut Kayu Mati atau Buyut Kayu Perbatang dari dasar balong kramat.
Ritual tersebut menjadi bagian penting dari tradisi Muludan yang hingga kini masih dipertahankan secara turun-temurun oleh masyarakat setempat.
Pagelaran Brai Danalaya Buka Rangkaian Muludan
Rangkaian kegiatan diawali dengan Pagelaran Brai Danalaya pada Selasa malam, 1 September 2026.
Pertunjukan yang berlangsung mulai pukul 19.00 hingga 24.00 WIB tersebut memadukan unsur seni, budaya, tradisi hingga nuansa mistis yang menjadi bagian dari kekayaan budaya lokal Cirebon.
Kemudian pada Rabu pagi, 2 September 2026 sekitar pukul 08.00 WIB, masyarakat menyaksikan prosesi utama berupa Pengangkatan Buyut Kayu Mati/Buyut Kayu Perbatang.
Pusaka tersebut diangkat dari dasar Balong Kramat untuk menjalani prosesi pencucian atau pemandian menggunakan air dari balong. Setelah itu, kain pembungkus pusaka diganti dengan kain baru sebelum menjalani prosesi berikutnya.
Juru Pelihara Situs Balong Kramat Tuk Pangeran Mancur Jaya, Raden Suparja, mengatakan tradisi Muludan di situs tersebut memiliki waktu pelaksanaan yang khas.
Menurutnya, puncak tradisi dilaksanakan setiap 19 Mulud atau Sangalase, sekitar tujuh hari setelah pelaksanaan Panjang Jimat di sejumlah keraton Cirebon.
“Di sini Panjang Jimat atau Pelal tiap tanggal 19 Mulud atau Sangalase. Kayu tersebut diangkat pagi hari dari dalam balong, kemudian dimandikan atau dicuci dengan air dari balong lalu kain pembungkusnya diganti dengan yang baru. Di malam hari, kayu tersebut ditenggelamkan lagi ke dalam balong,” kata Raden Suparja.
Tradisi tersebut menjadi salah satu bentuk pelestarian warisan leluhur yang masih dijaga masyarakat sekitar hingga saat ini.
Pawai Pusaka Disambut Ribuan Masyarakat
Sebelum Buyut Kayu Perbatang kembali ditenggelamkan ke dalam balong pada malam hari, masyarakat mengikuti sejumlah rangkaian kegiatan, mulai dari arak-arakan atau pawai budaya, pertunjukan seni hingga pembacaan Barzanji.
Pada malam harinya, mulai pukul 19.30 WIB, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan Panjang Jimat Ider-Ideran Malam Pelal Muludan.
Kegiatan tersebut memadukan unsur tradisi, seni dan keagamaan.
Masyarakat dapat menyaksikan Ider-Ideran Panjang Jimat dan arak-arakan pusaka, doa dan tahlil bersama, serta berbagai pertunjukan budaya.
Rangkaian Pelal atau Panjang Jimat di Balong Kramat Tuk Pangeran Mancur Jaya turut dihadiri Sultan Kacirebonan PR Abdulgani Natadiningrat, S.E., unsur Forkopimcam Kecamatan Kedawung dan Kuwu Kertawinangun.
Sultan Kacirebonan didampingi Raden Suparja menaiki kereta kencana, begitu pula Camat Kedawung.
Pawai arak-arakan tersebut mendapat sambutan antusias dari ribuan masyarakat yang berkumpul di sepanjang jalur yang dilewati.
Festival Ogoh-Ogoh dan Bazar UMKM.
Kemeriahan Muludan tidak berhenti pada prosesi adat. Acara juga dimeriahkan dengan Festival Ogoh-Ogoh dan bazar UMKM.
Bazar tersebut memberikan ruang bagi pelaku usaha lokal untuk memperkenalkan sekaligus memasarkan produk mereka kepada masyarakat dan para pengunjung yang datang ke lokasi.
Pentas seni dan budaya juga menjadi bagian dari rangkaian acara.
Sejumlah komunitas dan sanggar seni menampilkan tari tradisional Nusantara hingga tari kreasi beregu.
Perpaduan antara tradisi, seni, keagamaan dan aktivitas ekonomi masyarakat membuat perayaan Muludan di Situs Balong Kramat Tuk Pangeran Mancur Jaya semakin semarak.
Lomba Tari Topeng Cirebon Turut Meriahkan Muludan
Pelaksanaan Muludan tahun ini juga tidak hanya diisi prosesi adat dan keagamaan.
Sejumlah perlombaan turut digelar untuk melibatkan masyarakat, salah satunya Lomba Tari Topeng Cirebon.
Raden Suparja mengatakan kegiatan tersebut menjadi salah satu upaya untuk memperkenalkan kesenian khas Cirebon kepada generasi muda.
Selain itu, rangkaian acara Muludan juga menghadirkan kesenian Brai Danalaya sebagai bagian dari upaya menjaga keberlangsungan seni dan tradisi lokal.
Menurutnya, berbagai kegiatan tersebut diharapkan dapat menjadi ruang bagi generasi muda untuk mengenal lebih dekat kesenian dan tradisi Cirebon.
Menjaga Warisan Leluhur Cirebon
Rangkaian Muludan di Situs Balong Kramat Tuk Pangeran Mancur Jaya menjadi momentum yang mempertemukan tradisi leluhur, nilai keagamaan, kesenian dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Melalui kegiatan tersebut, masyarakat tidak hanya mempertahankan warisan budaya yang berlangsung secara turun-temurun, tetapi juga memperkenalkan kekayaan tradisi Cirebon kepada generasi muda dan masyarakat luas.
Prosesi pengangkatan Buyut Kayu Perbatang dari dasar balong, pawai pusaka, pembacaan Barzanji, pentas seni, Festival Ogoh-Ogoh, Lomba Tari Topeng Cirebon hingga bazar UMKM menjadi rangkaian yang membuat Muludan di Situs Balong Kramat Tuk Pangeran Mancur Jaya memiliki daya tarik tersendiri.
Tradisi tersebut sekaligus menjadi gambaran bagaimana masyarakat Kabupaten Cirebon terus merawat identitas budaya dan warisan leluhur di tengah perkembangan zaman. (*/Utoyo)











