RAKERDA I: Sinergi Guru RA Kota Banjar Menyiapkan Masa Depan dari Ruang Kelas PAUD

oleh -36 Dilihat

Banjar-//DJALAPAKSINEWS// — Aula Toserba Pajajaran, Rabu, 16 September 2026, terasa lebih dari sekadar ruang pertemuan. Di tempat itu, para guru Raudhatul Athfal (RA) Kota Banjar berkumpul membawa satu kesadaran yg sama: mendidik anak² hari ini berarti sedang menyiapkan wajah Kota Banjar di masa depan.

Mereka datang dari ruang² kelas yg setiap hari dipenuhi suara anak². Dari tangan merekalah huruf pertama dikenalkan, doa² kecil dibiasakan, keberanian ditumbuhkan, dan akhlak perlahan ditanamkan.

Hari itu, mereka berhenti sejenak dari rutinitas mengajar utk duduk bersama dlm Rapat Kerja Daerah (Rakerda) I Pimpinan Daerah Ikatan Guru Raudhatul Athfal (PD IGRA) Kota Banjar Tahun 2026.

Tema yg diusung adalah “Menguatkan Sinergi, Menyatukan Langkah, Mewujudkan IGRA Kota Banjar yg Transformatif, Adaptif, dan Inspiratif”. Tema ini spt cermin yg mengajak seluruh keluarga besar IGRA melihat kembali perjalanan yg telah ditempuh dan menatap perubahan yg harus dihadapi.

Sebab zaman berubah.

Anak² yg mereka didik tumbuh di tengah dunia yg jauh berbeda dari masa kecil generasi sebelumnya. Teknologi berada di tangan mereka. Informasi datang begitu cepat. Cara belajar berubah. Tantangan keluarga semakin kompleks.

Namun satu hal tdk berubah: anak tetap membutuhkan manusia yg mau hadir dg hati.

Di sinilah guru RA memiliki peran yg begitu penting.

Guru RA bukan hanya mengenalkan angka dan huruf. Mereka memperkenalkan dunia kpd anak melalui cara yg sederhana. Mrk mengajarkan berbagi, meminta maaf, mengucapkan terima kasih, menghormati teman, menyayangi makhluk hidup, dan mengenal Tuhan.

Karena pendidikan anak usia dini pada akhirnya bukan cuma ttg seberapa banyak pengetahuan yg masuk ke kepala anak.

Ini ttg nilai apa yg tumbuh di dalam hatinya.

Dlm konteks itulah Rakerda menjadi penting. Forum ini bukan cuma tempat menyusun agenda organisasi, tetapi ruang utk menyatukan visi dan memperkuat langkah agar IGRA mampu menjawab kebutuhan pendidikan RA di tengah perubahan zaman.

Semangat tsb sejalan dengan arah kebijakan Kementerian Agama melalui Asta Protas, khususnya ikhtiar menghadirkan pendidikan yg unggul, ramah, dan terintegrasi.

Pada pertemuan penting ini, Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Banjar, H. Ahmad Fikri Firdaus, SE, MM, menegaskan pentingnya pendidikan yg unggul membutuhkan guru yg terus belajar.

Pendidikan yg ramah tdk cukup hanya dengan slogan. Ia harus terasa dlm cara guru berbicara kpd anak, memperlakukan perbedaan, menciptakan ruang aman, dan menghargai setiap tahap tumbuh kembang mereka.

Sementara pendidikan yg terintegrasi mengingatkan kita bhw membentuk anak bukan pekerjaan satu pihak. “Ada guru, keluarga, masyarakat, pemerintah, dan lingkungan yg harus berjalan dlm arah yg sama,” ujar Fikri, sapaan akrab kepala Kantor Kemenag Kota Banjar tsb.

Karena itu, sinergi menjadi kata penting dalam Rakerda ini.

IGRA tidak dapat berjalan sendiri. Begitu pula Kementerian Agama. Pendidikan anak adalah kerja bersama.

Dari sinergi itulah lahir kekuatan utk melakukan transformasi.

Transformasi tdk berarti meninggalkan nilai² lama yg baik. Transformasi berarti menemukan cara baru agar nilai² itu tetap hidup di tengah zaman yg baru.

Guru RA perlu semakin akrab dg teknologi, tetapi tdk boleh kehilangan sentuhan manusiawi.

Guru perlu adaptif thd perubahan kurikulum, tetapi tetap memiliki pijakan nilai.

Guru perlu kreatif menciptakan pembelajaran, tetapi tdk melupakan bhw anak² belajar paling baik ketika mereka merasa aman, dicintai, dan dihargai.

Dan di atas semuanya, guru harus tetap menjadi teladan.

Sebab anak² mungkin lupa apa yg pernah dikatakan gurunya. Tetapi mereka akan mengingat bagaimana gurunya menperlakukan mrk dg rasa.

Di Aula Toserba Pajajaran hari itu, gagasan² Kepala Kantor Kemenag Kota Banjar ttg organisasi, program kerja, kompetensi, digitalisasi, lingkungan, dan pendidikan berkelindan dg satu persoalan yg jauh lebih mendasar: anak spt apa yg ingin kita hadirkan utk masa depan?

Pertanyaan itu seyogyanya selalu berada di balik setiap program.

Ketika IGRA berbicara ttg peningkatan kompetensi guru, sesungguhnya yg sedang diperjuangkan adalah masa depan anak.

Ketika berbicara ttg inovasi pembelajaran, yg sedang diperjuangkan adalah rasa ingin tahu anak.

Ketika berbicara ttg pendidikan ramah, yg sedang diperjuangkan adalah harga diri dan keamanan anak.

Dan ketika berbicara ttg akhlak, sesungguhnya yg sedang ditanam adalah fondasi kehidupan mereka kelak.

Maka Rakerda ini pada akhirnya bukan cuma ttg IGRA. Ini ttg anak² Kota Banjar.

Ttg anak yg pagi² datang ke RA dg seragam kecil dan tas mungilnya.

Ttg tangan² kecil yg mungkin belum mampu menulis namanya dg sempurna.

Ttg mata yg penuh rasa ingin tahu.

Ttg tawa yg sederhana.

Dan ttg masa depan yg hari ini blm dpt mrk bayangkan.

Di balik semua itu, ada guru² yg memilih utk terus belajar, beradaptasi, bekerja sama, dan mengabdi.

Mereka mungkin tdk selalu disebut ketika keberhasilan seorang anak kelak dirayakan.

Tetapi sering kali, di balik keberanian seorang anak, ada guru RA yg dahulu pernah berkata:

“Ayo, kamu pasti bisa.”

Kalimat sederhana itulah yg terkadang menjadi awal dari perjalanan panjang sebuah kehidupan.

Karena itu, Rakerda I PD IGRA Kota Banjar Tahun 2026 patut dimaknai sbg ikhtiar utk memastikan bahwa guru² yg menanam benih masa depan itu tdk berjalan sendirian.

Mereka membutuhkan organisasi yg kuat.

Membutuhkan kebijakan yg berpihak pada mutu pendidikan.

Membutuhkan sinergi.

Membutuhkan ruang utk belajar dan bertumbuh.

Dan membutuhkan keyakinan bhw apa yg mereka lakukan hari ini sungguh berarti.

Dari Aula Toserba Pajajaran, Rabu, 16 September 2026, sebuah pesan sederhana mengemuka:

Masa depan tdk tiba² menjadi baik. Ia dipersiapkan.

Dan persiapan itu bisa dimulai dari sebuah ruang kelas kecil, dari tangan seorang guru RA, dari sebuah cerita sebelum belajar, dari doa yg diucapkan bersama, dan dari satu nilai kebaikan yg ditanamkan setiap hari.

Karena mungkin kita tdk pernah tahu anak mana yg kelak menjadi pemimpin, ilmuwan, guru, pengusaha, ulama, atau orang tua yg baik.

Tetapi kita tahu satu hal:

setiap anak berhak mendapatkan awal kehidupan yg terbaik.

Dan utk itulah, para guru RA hari ini terus belajar, bersinergi, beradaptasi, dan menginspirasi.//Redaksi//

Penulis: Dr. Asep Mulyana, MA.
(Penelaah Teknis Kebijakan Kantor Kemenag Kota Banjar)

No More Posts Available.

No more pages to load.