CIREBON, DjalapaksiNews – Museum Pangeran Cakrabuana Kabupaten Cirebon kembali menjadi ruang edukasi dan perjumpaan masyarakat dengan berbagai warisan seni dan budaya daerah. Pameran koleksi museum yang berlangsung pada 28 September hingga 1 Oktober 2026 itu menghadirkan beragam koleksi budaya, sekaligus pertunjukan seni dan kompetisi bagi pelajar.
Kegiatan yang digelar Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Cirebon tersebut berlangsung di Museum Pangeran Cakrabuana, Jalan Sunan Drajat Nomor 9, Kecamatan Sumber, Kabupaten Cirebon.
Pameran dibuka Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Cirebon, Fajar Sutrisno. Usai seremoni pembukaan, pengunjung disuguhi berbagai pertunjukan seni tradisional, mulai dari Sintren, Berokan, Tarling Klasik, Tari Reog, Tari Ronggeng Bugis hingga Rudat Cirebon.
Tidak hanya menampilkan koleksi, rangkaian pameran juga dirancang untuk mendekatkan museum dengan generasi muda. Sejumlah perlombaan melibatkan pelajar dari berbagai wilayah di Kabupaten Cirebon.
Di antaranya Lomba Mendongeng Cerita Rakyat Cirebon tingkat SMP, Lomba Baca Puisi Bahasa Cirebon tingkat SMA, serta Lomba Melukis Batik Motif Cirebon tingkat SMP.
Bukan Sekadar Tempat Menyimpan Benda Kuno
Selama ini, museum masih kerap dipahami sebatas tempat menyimpan benda-benda kuno. Padahal, berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 2015 tentang Museum, museum memiliki fungsi melindungi, mengembangkan, memanfaatkan koleksi, sekaligus mengomunikasikannya kepada masyarakat.
Karena itu, setiap benda yang tersimpan di museum bukan sekadar objek pajangan. Di balik sebuah koleksi terdapat konteks sejarah, pengetahuan, nilai pendidikan, serta nilai budaya yang dapat dipelajari masyarakat.
Pengunjung tidak hanya diajak melihat bentuk benda, tetapi juga memahami latar belakang pembuatannya, proses pembuatan, fungsi, penggunaan, hingga nilai budaya yang terkandung di dalamnya.
Konsep tersebut menjadi bagian penting dalam upaya memperkenalkan Museum Pangeran Cakrabuana kepada masyarakat.
Museum Pangeran Cakrabuana merupakan museum khusus yang berfokus pada koleksi seni dan budaya, terutama yang berkaitan dengan kebudayaan Cirebon. Museum ini dimiliki Pemerintah Kabupaten Cirebon dan dikelola Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Cirebon.
Gagasan menghadirkan museum di Kabupaten Cirebon mulai muncul sekitar 2006–2007. Salah satu tokoh yang turut menggagasnya adalah Dr. Casta.
Gagasan tersebut berangkat dari kebutuhan menghadirkan ruang untuk menyimpan, merawat, mengkaji, sekaligus memperkenalkan berbagai benda seni dan budaya Cirebon kepada masyarakat.
Pembangunan museum dilakukan secara bertahap dengan menyesuaikan kemampuan anggaran pemerintah daerah. Dalam perkembangannya, pemerintah pusat turut memberikan dukungan terhadap pembangunan dan pengembangan museum.
Museum Pangeran Cakrabuana kemudian diresmikan pada 2 April 2014 oleh Bupati Cirebon.
Mengabadikan Jejak Sejarah Cirebon
Pemilihan nama Pangeran Cakrabuana sebagai nama museum juga memiliki latar belakang historis.
Pangeran Cakrabuana dikenal sebagai salah satu tokoh penting dalam sejarah awal Cirebon. Dalam sejumlah sumber tradisional Cirebon, tokoh tersebut disebut sebagai salah satu pendiri Cirebon.
Referensi mengenai Pangeran Cakrabuana antara lain terdapat dalam Babad Cirebon koleksi Brandes yang diterbitkan Rinkes pada 1911.
Nama Pangeran Cakrabuana juga berkaitan dengan Carita Purwaka Caruban Nagari, yang menurut Atja ditulis Pangeran Arya Carbon pada 1720 dengan merujuk pada Nagarakretabhumi.
Penggunaan nama tersebut menjadi bagian dari identitas museum sekaligus pengingat bahwa perkembangan kebudayaan Cirebon memiliki keterkaitan erat dengan perjalanan sejarah daerah tersebut.
Koleksi Batik, Wayang hingga Lukisan Kaca
Berbagai koleksi Museum Pangeran Cakrabuana tersebar di dua lantai. Lantai pertama antara lain menyimpan koleksi batik, seperti Batik Trusmi dan Batik Ciwaringin.
Pengunjung juga dapat melihat busana pengantin, busana tari, keris, Berokan, Topeng, serta Kedok Wayang Wong.
Sementara itu, lantai kedua menyimpan koleksi Wayang Kulit Cirebon, Wayang Golek Sunda, Wayang Golek Cepak, gamelan Cirebon, lukisan kaca, dan gerabah.
Keragaman tersebut menggambarkan luasnya perkembangan seni dan budaya yang tumbuh serta hidup di Cirebon.
Salah satu koleksi yang memiliki cerita menarik adalah Wayang Kulit Cirebon. Dalam tradisi tertentu, wayang tersebut diyakini dibuat oleh Sunan Kalijaga. Namun, terdapat pula pandangan yang menyebut pembuatnya adalah Ki Kaca, yang disebut sebagai keturunan Sunan Kalijaga.
Perbedaan versi mengenai asal-usul tersebut menjadi bagian dari pengetahuan sejarah dan budaya yang masih terbuka untuk dikaji lebih lanjut.
Koleksi lain yang menarik perhatian adalah lukisan kaca yang diperkirakan berasal dari akhir abad ke-19, sekitar 1890-an. Koleksi tersebut menjadi salah satu penanda perkembangan awal tradisi lukisan kaca di Cirebon.
Museum juga memiliki sejumlah koleksi keris yang dinilai memiliki nilai tinggi oleh kalangan pegiat dan pemerhati keris. Meski demikian, museum belum menetapkan koleksi tertentu sebagai masterpiece atau koleksi unggulan utama yang mendapatkan perlakuan khusus dalam tata pamer dan pengamanan.
Dekatkan Museum dengan Generasi Muda
Pameran tahun ini menjadikan pelajar sebagai bagian penting dari rangkaian kegiatan. Selain menyaksikan koleksi dan pertunjukan seni, para pelajar diberikan ruang untuk mengekspresikan pengetahuan dan kreativitas mereka melalui berbagai perlombaan.
Lomba Mendongeng Cerita Rakyat Cirebon tingkat SMP digelar pada 29 September 2026 dengan juri Roji Hidayat, Rucita, dan Uuk Sukarna.
Selanjutnya, Lomba Baca Puisi Bahasa Cirebon tingkat SMA dilaksanakan pada 30 September 2026 dengan juri Edeng Syamsul Maarif, Fathan Mubarak, dan Imam Emje.
Sementara pada 1 Oktober 2026 digelar Lomba Melukis Batik Motif Cirebon tingkat SMP dengan juri Dr. Casta, Lilis Katura, dan Bahendi.
Rangkaian kegiatan tersebut memperlihatkan pendekatan berbeda dalam mengenalkan museum kepada generasi muda. Koleksi tidak hanya dipandang sebagai benda masa lalu, tetapi diterjemahkan melalui cerita rakyat, bahasa, seni pertunjukan, dan kreativitas visual.
Dengan pendekatan tersebut, Museum Pangeran Cakrabuana diharapkan tidak berhenti sebagai tempat penyimpanan koleksi, tetapi berkembang sebagai ruang belajar yang mempertemukan sejarah, budaya, dan kreativitas generasi masa kini.
Sebab, menjaga warisan budaya bukan hanya tentang mempertahankan benda-bendanya, tetapi juga memastikan cerita, pengetahuan, dan nilai yang terkandung di dalamnya tetap dipahami dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
(Utoyo)









