Dari Cirebon untuk Indonesia, IDE.IND Dorong Lahirnya Talenta Digital dan Inovasi Ekonomi Kreatif

oleh -8 Dilihat

KOTA CIREBON, DjalapaksiNews – Pemerintah Kota Cirebon terus memperkuat pengembangan ekonomi kreatif dengan mendorong lahirnya inovasi dan talenta-talenta lokal yang mampu bersaing di era digital. Komitmen tersebut mengemuka dalam kegiatan IDE.IND yang dihadiri langsung oleh Wali Kota Cirebon, Effendi Edo, bersama Menteri Ekonomi Kreatif RI, Teuku Riefky Harsya, di Kota Cirebon, Kamis (5/11/2026).

Kegiatan tersebut turut dihadiri Anggota DPR RI, Herman Khaeron, Deputi Bidang Kreativitas Digital dan Teknologi Kementerian Ekonomi Kreatif, Muhamad Neil El Himam, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Cirebon, serta Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Dinas Koperasi, Usaha Kecil, Menengah, Perdagangan dan Perindustrian (DKUKMPP) Kota Cirebon.

Kehadiran IDE.IND menjadi momentum penting untuk mempertemukan para pelaku ekonomi kreatif, komunitas, inovator, dan talenta digital dalam membangun ekosistem kreatif yang lebih kuat. Tidak hanya berbicara tentang perkembangan teknologi, kegiatan ini juga membuka ruang kolaborasi agar ide dan kreativitas masyarakat dapat berkembang menjadi produk serta peluang usaha yang memiliki nilai ekonomi.

Menteri Ekonomi Kreatif RI, Teuku Riefky Harsya, mengapresiasi langkah Pemerintah Kota Cirebon dalam mendukung pertumbuhan ekonomi kreatif. Menurutnya, Cirebon memiliki potensi besar karena didukung akar budaya yang kuat serta perkembangan komunitas kreatif yang semakin pesat.

Ia menjelaskan bahwa ekonomi kreatif kini memiliki posisi strategis dalam pembangunan nasional. Sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto, sektor tersebut tidak lagi dipandang sebagai pelengkap, melainkan telah menjadi salah satu mesin baru pertumbuhan ekonomi Indonesia.

“Pertama, kami ingin mengapresiasi apa yang telah dilakukan Kota Cirebon dalam mendukung ekonomi kreatif. Kami melihat potensi dan perkembangan komunitas kreatif di Cirebon cukup pesat. Ini menjadi modal penting untuk mendorong ekonomi kreatif agar semakin berkembang dan memberikan kontribusi terhadap perekonomian daerah,” ujar Teuku Riefky.

Ia menyebutkan, kekuatan ekonomi kreatif Cirebon tidak hanya terlihat pada subsektor yang telah dikenal luas, seperti fesyen, kuliner, kriya, dan kerajinan. Potensi baru juga mulai tumbuh pada sektor berbasis digital, termasuk pengembangan aplikasi, teknologi untuk mendukung UMKM, hingga industri gim.

Menurutnya, perkembangan tersebut perlu mendapatkan dukungan melalui ruang kolaborasi dan pendampingan yang tepat. Salah satu perhatian dalam kegiatan IDE.IND adalah membuka kesempatan bagi talenta pengembang gim di Cirebon untuk bertemu dan berkolaborasi dengan pelaku industri dari daerah lain, termasuk pengembang gim dari Bandung.

Teuku Riefky berharap kolaborasi tersebut dapat menjadi awal terbentuknya ekosistem pengembangan gim lokal yang lebih kuat, sehingga talenta-talenta Cirebon tidak hanya memiliki kemampuan, tetapi juga kesempatan untuk menghasilkan produk yang dapat dinikmati pasar nasional maupun internasional.

“Kami mendengar bahwa talenta-talenta pembuat gim di Kota Cirebon cukup banyak, tetapi masih membutuhkan wadah. Karena itu, kami menghadirkan pengembang gim dari Bandung agar bisa bertemu dan berkolaborasi dengan talenta lokal. Harapannya, suatu saat Cirebon dapat menghasilkan produk gim asli daerah yang bisa dikenal di Indonesia,” jelasnya.

Lebih jauh, Menteri Ekonomi Kreatif menekankan bahwa kekuatan budaya merupakan salah satu fondasi penting bagi tumbuhnya industri kreatif. Daerah dengan akar budaya yang kuat memiliki sumber inspirasi dan identitas yang dapat dikembangkan melalui inovasi, teknologi, serta kreativitas.

Dalam konteks tersebut, Cirebon dinilai memiliki keunggulan tersendiri. Kekayaan budaya, tradisi, seni, dan kerajinan yang telah berkembang selama bertahun-tahun dapat menjadi sumber lahirnya produk kreatif dengan karakter dan nilai pembeda.

Namun, potensi tersebut perlu diikuti dengan penguatan aspek komersialisasi dan perlindungan kekayaan intelektual. Ia menjelaskan bahwa upaya mendorong UMKM naik kelas tidak cukup hanya dengan meningkatkan jumlah produksi, tetapi juga harus disertai kemampuan mengelola dan mengomersialkan kekayaan intelektual atau intellectual property (IP).

“Bagaimana sebuah ide bisa menghasilkan kreativitas, kemudian didaftarkan kekayaan intelektualnya, lalu dikomersialisasikan secara berkelanjutan. Di situlah nilai tambah ekonomi kreatif terbentuk. Kami juga melakukan pendampingan, mulai dari peningkatan kapasitas, akses pendanaan, akses pasar, promosi, hingga peningkatan kualitas produk,” paparnya.

Dukungan terhadap pengembangan ekonomi kreatif Cirebon juga disampaikan Anggota DPR RI, Herman Khaeron. Ia menyambut baik dipilihnya Kota Cirebon sebagai salah satu lokasi pelaksanaan IDE.IND untuk memperkuat ekosistem subsektor ekonomi kreatif.

Menurut Herman, Cirebon sejak lama dikenal sebagai daerah yang memiliki tradisi kreativitas dan kekuatan industri berbasis keterampilan masyarakat. Potensi tersebut terlihat dari beragam sektor, mulai dari industri rotan, batik, kuliner, hingga industri alas kaki.

Ia menilai sejumlah industri yang memiliki sejarah panjang di Cirebon perlu kembali diperkuat melalui inovasi dan penyesuaian terhadap perkembangan zaman. Salah satunya industri rotan yang dahulu menjadi salah satu identitas industri unggulan daerah.

Selain itu, batik Cirebon juga memiliki peluang besar untuk terus berkembang. Keunikan motif dan karakter budaya yang melekat pada batik Cirebon perlu diikuti dengan inovasi desain, model, dan produk agar tetap relevan dengan kebutuhan pasar yang terus berubah.

“Cirebon ini gudangnya kreativitas. Banyak sekali potensi yang kita miliki, mulai dari rotan, batik, kuliner, hingga berbagai industri lainnya. Tantangannya adalah bagaimana potensi yang sudah ada ini terus dikembangkan melalui inovasi, sehingga mampu memberikan nilai tambah dan memiliki daya saing di tengah perubahan pasar,” kata Herman.

Ia juga menekankan pentingnya menghubungkan gagasan dengan nilai ekonomi. Menurutnya, perkembangan ekonomi kreatif membutuhkan perpaduan antara ide, seni, budaya, teknologi, serta penguatan kekayaan intelektual.

Dengan demikian, produk yang dihasilkan tidak sekadar memiliki nilai jual, tetapi juga mempunyai identitas dan keunggulan yang membedakannya dari produk lain.

Herman menegaskan dukungannya terhadap upaya Kementerian Ekonomi Kreatif dalam memperluas pengembangan sektor kreatif di berbagai daerah. Ia berharap kegiatan seperti IDE.IND dapat terus dilaksanakan dan memberikan ruang lebih luas bagi masyarakat untuk menampilkan hasil inovasi serta kreativitasnya.

Wali Kota Cirebon, Effendi Edo, menyampaikan bahwa pengembangan inovasi teknologi dan ekonomi kreatif harus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Menurutnya, ekosistem kreatif tidak boleh tumbuh secara eksklusif, tetapi harus terbuka dan mampu menjawab kebutuhan serta mendorong aktivitas ekonomi warga.

“Atas nama Pemerintah Kota Cirebon, kami memandang bahwa pengembangan inovasi teknologi dan ekosistem kreatif tidak boleh berjarak dari masyarakat. Kegiatan seperti ini harus membaur, menjadi bagian dari denyut nadi ekonomi warga, dan pada akhirnya mampu memberikan manfaat yang benar-benar dirasakan masyarakat,” ujarnya.

Wali Kota menilai, Kota Cirebon memiliki modal besar untuk mengembangkan ekonomi kreatif, terutama dari sisi sumber daya manusia. Lebih dari 68 persen penduduk Kota Cirebon berada pada kelompok usia produktif, yang didominasi generasi milenial dan Gen Z. Ditambah dengan penetrasi internet yang telah melampaui 80 persen, kondisi tersebut menjadi peluang untuk mendorong lahirnya generasi muda yang tidak hanya cakap menggunakan teknologi, tetapi juga mampu menciptakan inovasi.

Ia berharap potensi tersebut dapat diarahkan untuk melahirkan lebih banyak kreator digital, pengembang aplikasi, pengembang gim, hingga pelaku startup lokal. Dengan begitu, anak-anak muda Cirebon tidak hanya menjadi pengguna berbagai produk digital, tetapi juga mampu menghasilkan karya dan solusi teknologi yang berangkat dari kebutuhan masyarakat.

“Jangan sampai kita hanya menjadi konsumen digital, yang setiap hari menggunakan aplikasi, gim, dan berbagai platform buatan pihak lain. Kita juga harus mulai mendorong anak-anak muda Cirebon menjadi produsen, menjadi kreator, bahkan menjadi pencipta solusi teknologi yang lahir dari kebutuhan masyarakat kita sendiri,” tutur Wali Kota.

Lebih lanjut, ia menyoroti keberadaan belasan ribu UMKM dan pelaku industri kreatif di Kota Cirebon yang perlu didukung pemanfaatan teknologi agar mampu meningkatkan produktivitas dan memperluas jangkauan pasar. Menurutnya, kolaborasi antara pelaku usaha dan talenta digital lokal dapat membuka peluang lahirnya berbagai inovasi yang memberikan nilai tambah bagi produk maupun layanan usaha.

Untuk mewujudkan hal tersebut, Pemerintah Kota Cirebon berkomitmen memperkuat ekosistem kewirausahaan digital melalui kolaborasi antara pemerintah, komunitas, akademisi, dan pelaku industri. Pemerintah daerah juga ingin memastikan para talenta lokal memiliki ruang untuk mengembangkan gagasan, mendapatkan pendampingan, serta menghubungkan hasil inovasinya dengan kebutuhan pasar.

“Kami di Pemerintah Kota Cirebon tentu berkomitmen menjaga ekosistem ini. Kami ingin memfasilitasi agar talenta digital, pelaku usaha, akademisi, industri, dan komunitas bisa saling bertemu serta berkolaborasi. Harapannya, dari ruang kolaborasi ini lahir startup dan karya inovatif yang berdaya saing, mandiri, serta mampu memberikan kontribusi bagi perekonomian daerah,” katanya.

Sejalan dengan komitmen tersebut, Wali Kota mengajak seluruh peserta IDE.IND untuk memanfaatkan kegiatan ini sebagai ruang memperluas wawasan, membangun jejaring, dan membuka peluang kerja sama. Ia berharap pertemuan tersebut tidak berhenti pada pertukaran gagasan, tetapi berlanjut menjadi kolaborasi dan karya nyata yang dapat dikembangkan secara berkelanjutan.

“Cirebon bukan hanya kota pelabuhan yang memiliki sejarah panjang, tetapi juga harus menjadi kota masa depan yang mampu melahirkan inovator-inovator digital kebanggaan Indonesia. Kami ingin potensi anak-anak muda Cirebon mendapatkan ruang, dukungan, dan kesempatan untuk berkembang,” ungkapnya.

Wali Kota berharap Melalui pelaksanaan IDE.IND, Pemerintah Kota Cirebon dengan kekuatan budaya, potensi sumber daya manusia, dan perkembangan teknologi dapat terhubung dalam satu ekosistem ekonomi kreatif yang produktif. Upaya ini sekaligus menjadi langkah untuk membuka peluang kerja baru, memperkuat daya saing UMKM, serta meningkatkan nilai ekonomi produk lokal.

“Semoga dengan dukungan dan kolaborasi berbagai pihak, Kota Cirebon diharapkan tidak hanya dikenal karena kekayaan sejarah dan budayanya, tetapi juga mampu tumbuh sebagai ruang lahirnya inovasi dan talenta digital yang berkontribusi bagi perekonomian daerah maupun nasional,” tuturnya. (*/Utoyo)

No More Posts Available.

No more pages to load.