Satgaswil Jabar Densus 88 Edukasi Pelajar SMK Ulil Albab Cirebon, Cegah Radikalisme Digital dan Ekstremisme Kekerasan

oleh -29 Dilihat

CIREBON, DjalapaksiNews – Satuan Tugas Wilayah (Satgaswil) Jawa Barat Densus 88 Antiteror Polri memberikan edukasi kepada pelajar SMK Ulil Albab Cirebon mengenai pencegahan radikalisme digital dan ekstremisme kekerasan, Senin (19/10/2026).

Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 08.00 WIB tersebut digelar di SMK Ulil Albab, Jalan Raya Kebarepan No. 6, Desa Kasugengan Lor, Kecamatan Depok, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. Edukasi ini bertujuan meningkatkan kewaspadaan pelajar terhadap ancaman penyebaran paham ekstrem melalui ruang digital.

Sebanyak 120 peserta yang terdiri atas perwakilan OSIS, siswa kelas XI, dan guru mengikuti kegiatan tersebut. Hadir dalam kegiatan itu Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, Jauhari, serta guru Bimbingan dan Konseling (BK), Sri Rejeki, Fatonah, dan Fauziah.

Tim Satgaswil Jabar Densus 88 yang terlibat dalam kegiatan ini terdiri atas KOMPOL H. Satori, S.H., M.M., AKP Iwan Supriyadi, BRIPKA M. Teguh Alim, dan BRIGPOL Dika Abdi.

Dalam penyampaian materi, tim memberikan pemahaman mengenai perkembangan ancaman radikalisasi digital dan ekstremisme kekerasan yang dapat menyasar kalangan pelajar. Kasus kekerasan di SMAN 72 Jakarta turut diangkat sebagai bahan pembelajaran untuk meningkatkan kewaspadaan serta mendorong siswa memahami pentingnya pencegahan kekerasan di lingkungan pendidikan.

Para siswa juga diberikan pemahaman mengenai dampak perundungan atau bullying serta risiko bergabung dengan komunitas digital yang mengandung unsur kekerasan. Salah satu fenomena yang disoroti adalah True Crime Community (TCC), yang dalam konteks tertentu berpotensi menjadi ruang penyebaran maupun normalisasi perilaku kekerasan.

Selain itu, tim menjelaskan bahwa interaksi melalui permainan daring, seperti Roblox dan Free Fire, maupun media sosial perlu disikapi secara bijak. Platform digital dapat disalahgunakan oleh pihak tertentu untuk membangun kedekatan, memengaruhi pola pikir, hingga mengarahkan pelajar pada konten dan ideologi yang mengandung unsur kekerasan.

Karena itu, siswa diingatkan untuk mengenali tanda-tanda manipulasi dan indoktrinasi, terutama apabila terdapat ajakan yang menumbuhkan kebencian, permusuhan, atau mendorong mereka melakukan tindakan kekerasan. Pelajar juga didorong untuk tetap terbuka terhadap nasihat orang tua dan guru serta tidak mudah mengikuti ajakan kelompok yang mencurigakan.

Dalam upaya membangun kebiasaan digital yang sehat, para peserta diimbau untuk mengatur waktu bermain gim daring, memilih permainan yang sesuai dengan usia, serta mengutamakan kegiatan positif yang mendukung pembentukan karakter, prestasi, dan keterampilan sosial.

Penggunaan media sosial juga menjadi perhatian penting. Para pelajar diharapkan mampu memilah informasi, tidak mudah menyebarkan konten provokatif, serta menghindari materi yang mengandung kebencian, kekerasan, dan paham ekstremisme.  

Melalui edukasi ini, Satgaswil Jabar Densus 88 mendorong terbentuknya generasi muda yang kritis, bijak dalam memanfaatkan teknologi, serta memiliki ketahanan diri terhadap pengaruh negatif di dunia digital.

Peran sekolah, guru, dan orang tua dinilai penting dalam menciptakan lingkungan yang aman dan mendukung perkembangan pelajar. Komunikasi yang terbuka, kepedulian terhadap perubahan perilaku siswa, serta pendampingan dalam menggunakan media digital menjadi bagian penting dari upaya bersama mencegah perundungan, ekstremisme kekerasan, dan penyebaran paham radikal di kalangan generasi muda.

(Utoyo)

No More Posts Available.

No more pages to load.