Satgaswil Jabar dan Pemkab Bandung Perkuat Pencegahan Radikalisme Digital serta Kekerasan terhadap Anak

oleh -131 Dilihat

KABUPATEN BANDUNG, DjalapaksiNews – Satuan Tugas Wilayah (Satgaswil) Jawa Barat berkolaborasi dengan Pemerintah Kabupaten Bandung menggelar edukasi kebangsaan sekaligus penguatan pencegahan intoleransi, radikalisme, ekstremisme, dan terorisme (IRET), serta perlindungan anak di lingkungan Pondok Pesantren Darul Hikam, Jalan Raya Pengalengan Desa No. 442, Kiangroke, Kecamatan Banjaran Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Selasa (20/102026).

Kegiatan ini dihadiri Satgaswil Jabar Kompol H Satori SH MM, Bunda Forum Anak Daerah Kabupaten Bandung, Hj. Emma Desti Permanawati, S.Pd.I., M.M., Kepala Dinas Pengendalian Penduduk, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DALDUKPPA) Kabupaten Bandung, perwakilan Kementerian Agama Kabupaten Bandung, unsur Kecamatan Banjaran, serta sekitar 130 santri dan santriwati bersama tenaga pengajar Pondok Pesantren Darul Hikam.

Kegiatan tersebut menjadi langkah preventif untuk memperkuat wawasan kebangsaan, menanamkan nilai toleransi dan moderasi beragama, serta meningkatkan kewaspadaan terhadap penyebaran paham radikalisme melalui media digital. Selain itu, edukasi ini menekankan pentingnya menciptakan lingkungan pendidikan yang aman dan ramah anak.

Dalam penyampaian materinya, Satgaswil Jabar Kompol H Satori SH MM, mengajak para santri dan tenaga pendidik untuk lebih bijak dalam menggunakan media sosial, kritis dalam menerima informasi, serta mampu mengenali indikasi penyebaran paham intoleran dan radikal di ruang digital.

Literasi digital menjadi salah satu aspek penting dalam upaya pencegahan tersebut. Para santri diharapkan tidak mudah terpengaruh oleh konten provokatif, ajakan yang mengarah pada ekstremisme, maupun informasi yang berpotensi memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa.

Di samping pencegahan radikalisme digital, kegiatan ini juga memberikan perhatian terhadap perlindungan anak dari berbagai bentuk kekerasan, perundungan, paparan konten negatif, dan upaya indoktrinasi yang dapat mengancam tumbuh kembang anak.

Peran pengasuh pondok pesantren, tenaga pengajar, orang tua, serta pemerintah daerah dinilai penting dalam membangun sistem perlindungan yang efektif. Sinergi tersebut diperlukan untuk memastikan lingkungan pendidikan menjadi tempat yang aman, nyaman, inklusif, serta mendukung perkembangan karakter dan potensi anak.

Kehadiran Bunda Forum Anak Daerah bersama unsur perangkat daerah dan pemangku kepentingan terkait mencerminkan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam melakukan pencegahan sejak dini. Upaya ini tidak hanya berfokus pada peningkatan pemahaman, tetapi juga mendorong keterlibatan aktif seluruh unsur pendidikan dalam membangun ketahanan generasi muda terhadap berbagai ancaman di era digital.

Pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan keagamaan memiliki peran strategis dalam membentuk generasi yang berakhlak mulia, memiliki wawasan kebangsaan, menjunjung tinggi toleransi, serta mampu menghadapi perkembangan teknologi dan informasi secara kritis dan bertanggung jawab.

Melalui kegiatan ini, para santri, santriwati, dan tenaga pengajar diharapkan dapat menjadi bagian dari upaya pencegahan penyebaran paham intoleransi, radikalisme, ekstremisme, dan terorisme, sekaligus berperan aktif dalam menumbuhkan budaya saling menghormati dan melindungi anak dari segala bentuk kekerasan.

Satgaswil Jawa Barat bersama Pemerintah Kabupaten Bandung dan para pemangku kepentingan berkomitmen memperkuat sinergi dalam menangkal penyebaran radikalisme di ruang digital, meningkatkan kesadaran kebangsaan, serta mewujudkan lingkungan pendidikan yang aman dan ramah anak.

Kolaborasi tersebut diharapkan mampu membentuk generasi muda yang berkarakter, moderat, cerdas dalam bermedia digital, serta memiliki semangat menjaga persatuan dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

(Utoyo)

No More Posts Available.

No more pages to load.