Wali Kota Kunjungi UPT Latihan Tenaga Kerja, Siapkan SDM Kompeten dan Siap Bersaing

oleh -7 Dilihat

Cirebon DjalapaksiNews — Komitmen Pemerintah Kota Cirebon dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia terus diwujudkan melalui berbagai program peningkatan kompetensi tenaga kerja. Salah satunya melalui penyelenggaraan pelatihan berbasis keterampilan yang dilaksanakan Unit Pelaksana Teknis (UPT) Latihan Tenaga Kerja Kota Cirebon.

Wali Kota Cirebon, Effendi Edo didampingi Sekretaris Daerah Kota Cirebon, Iing Daiman meninjau langsung kegiatan pelatihan di UPT Latihan Tenaga Kerja Kota Cirebon, Jumat (7/8/2026). Peninjauan dilakukan untuk melihat secara langsung proses peningkatan kompetensi yang diikuti masyarakat.

Dalam kunjungannya, Wali Kota meninjau fasilitas pelatihan pengelasan yang menjadi salah satu program baru tahun ini. Ia mengapresiasi kondisi peralatan yang dinilai masih lengkap dan layak digunakan untuk menunjang proses pelatihan.

“Setelah saya melihat langsung, fasilitas pelatihan pengelasan di sini sangat baik. Peralatannya masih lengkap, mulai dari mesin las, helm pelindung, jaket keselamatan hingga perlengkapan lainnya semuanya masih berfungsi dengan baik. Artinya, masyarakat yang mengikuti pelatihan bisa belajar dengan fasilitas yang memadai,” ujarnya.

Menurutnya, tingginya minat masyarakat menjadi indikator bahwa pelatihan keterampilan masih sangat dibutuhkan. Baru dibuka pada bulan ini, pelatihan pengelasan telah menarik lebih dari 100 pendaftar.

“Antusiasme masyarakat luar biasa. Baru dibuka saja sudah ada 102 orang yang mendaftar. Ini menjadi motivasi bagi pemerintah untuk terus mengembangkan program pelatihan sesuai kebutuhan masyarakat maupun dunia kerja,” lanjutnya.

Ia berharap, pelatihan tersebut tidak hanya menghasilkan tenaga kerja yang siap memasuki dunia industri, tetapi juga mampu melahirkan pelaku usaha baru yang mandiri.

“Harapan kami, peserta yang mengikuti pelatihan ini nantinya memiliki kompetensi yang dibutuhkan perusahaan sehingga lebih mudah mendapatkan pekerjaan. Di sisi lain, mereka juga bisa memilih untuk membuka usaha sendiri, misalnya bengkel las. Pemerintah tentu akan terus melihat kebutuhan ke depan, termasuk apabila diperlukan penambahan fasilitas pelatihan,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Tenaga Kerja Kota Cirebon, Ma’ruf Nuryasa menjelaskan bahwa pendaftaran pelatihan masih dibuka hingga 12 Agustus 2026. Pelatihan pengelasan menjadi salah satu program yang paling diminati dengan kapasitas awal satu kelas berisi 16 peserta.

“Minat masyarakat sangat tinggi. Untuk pelatihan pengelasan saja jumlah pendaftar sudah melampaui 100 orang. Karena itu kami berencana membuka kelas-kelas berikutnya agar semakin banyak warga yang dapat mengikuti pelatihan,” ujarnya.

Selain pengelasan, Disnaker Kota Cirebon juga membuka berbagai pelatihan lain seperti digital marketing, menjahit, barista, dan barbershop. Seluruh pelatihan tersebut dirancang mengikuti kebutuhan pasar kerja yang terus berkembang.

Ma’ruf mengatakan, pelatihan tidak hanya berorientasi pada peningkatan keterampilan, tetapi juga disiapkan agar peserta memiliki peluang nyata setelah menyelesaikan pendidikan. Untuk itu, Disnaker tengah memperkuat program link and match dengan dunia usaha dan dunia industri.

“Kami ingin hasil akhirnya jelas. Ada peserta yang memilih menjadi wirausaha, ada juga yang ingin bekerja di perusahaan. Karena itu kami sedang membangun kerja sama dengan berbagai pelaku usaha. Contohnya untuk pelatihan menjahit, kami akan menggandeng perusahaan sehingga peserta yang memenuhi kualifikasi dapat langsung disalurkan untuk bekerja,” jelasnya.

Ia menambahkan, pelatihan menjadi salah satu strategi pemerintah daerah dalam menekan angka pengangguran terbuka di Kota Cirebon yang saat ini berada di angka 6,4 persen. Angka tersebut menunjukkan penurunan dibandingkan tahun sebelumnya yang tercatat sebesar 6,6 persen.

“Salah satu tuntutan dunia kerja saat ini adalah kompetensi. Karena itu kami terus meningkatkan kemampuan para pencari kerja agar mampu bersaing dan beradaptasi dengan kebutuhan industri. Target kami, angka pengangguran terus menurun dari tahun ke tahun,” katanya.

Durasi pelatihan pun disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing bidang. Pelatihan pengelasan berlangsung selama 26 hari, pelatihan barista selama 18 hari, sementara program lainnya berkisar antara 10 hingga 26 hari dengan kegiatan belajar dari pagi hingga sore.

Salah seorang peserta pelatihan barista, Ofa, mengaku memperoleh banyak pengalaman baru selama mengikuti pelatihan. Meski sebelumnya belum memiliki pengetahuan tentang dunia kopi, ia merasa materi yang diberikan mudah dipahami karena didukung instruktur yang berpengalaman.

“Saya benar-benar mulai dari nol, tetapi selama pelatihan semuanya dijelaskan dengan sangat jelas sehingga mudah dipahami. Kami belajar mulai dari teknik seduh manual seperti V60, espresso, kopi susu hingga berbagai metode penyajian lainnya. Sekarang tinggal terus berlatih agar keterampilan semakin meningkat,” ungkapnya.

Ofa menuturkan, pelatihan tersebut menjadi langkah awal untuk mewujudkan cita-citanya membuka kedai kopi sendiri. Menurutnya, industri kopi memiliki prospek yang baik dan terus berkembang.

“Saya berharap suatu saat bisa membuka coffee shop sendiri. Selama ini saya hanya menjadi penikmat kopi, sekarang ingin belajar menjadi pembuatnya. Mudah-mudahan ilmu yang didapat dari pelatihan ini bisa menjadi bekal untuk membangun usaha,” katanya.

Ia juga berharap program pelatihan yang diselenggarakan Pemerintah Kota Cirebon dapat terus berlanjut sehingga semakin banyak masyarakat yang memiliki keterampilan dan mampu menciptakan lapangan pekerjaan.

“Semoga pelatihan seperti ini terus ada dan bisa melahirkan generasi muda yang unggul, pengusaha-pengusaha sukses dari Kota Cirebon, maupun barista-barista yang andal,” pungkasnya. (*/Utoyo)

No More Posts Available.

No more pages to load.